Latest Post
Showing posts with label Mu'alaf. Show all posts
Showing posts with label Mu'alaf. Show all posts

Linda Lestari, Berkah Hidayah Si Anak Adopsi (1)

REPUBLIKA.CO.ID, -- "Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam ke adaan fitrah. Maka, kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi," demikian sabda Rasulullah SAW riwayat Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim.

Hadis tersebut seakan mewakili apa yang terjadi dalam kehidupan Linda. Jikalau tak diadopsi keluarga Muslim, bisa jadi Linda kini bukanlah seorang yang kaffah dalam berislam. Bukan pula seorang yang berkenan menghabiskan waktunya untuk memberdayakan saudara-saudaranya sesama mualaf.

Sedih. Itulah yang dirasakan Linda saat menghadapi realita sebagai anak adopsi. Tapi, pada saat yang sama ia bersyukur. Sebab, dari keluarga yang mengadopsinya, ia mengenal Islam.

"Di satu sisi, saat menyadari sebagai anak adopsi, merasa tidak tinggal dengan keluarga kandung tentu sedih, merasa tersisih. Mengapa orang tua kandung nggak menyayangi. Tapi, di sisi lain bersyukur. Sebab, dengan jalan ini saya menjadi Muslim," ujar Muslimah mualaf berusia 38 tahun ini menjelaskan.

Linda lahir dari keluarga Tionghoa beragama Kong Hu Chu. Tapi, kelahirannya dianggap pembawa sial keluarga. Saat sang ibunda mengandung Linda, usaha keluarga tiba-tiba bangkrut. Linda pun diyakini akan membawa dampak negatif bagi keluarga jika tidak diadopsi oleh keluarga lain.

"Bapak ibu saya Tionghoa. Saya diadopsi keluarga Melayu. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, kalau ibu hamil mengalami kondisi tertentu atau kejadian tertentu maka anaknya harus diadopsi,'' ungkap Linda mengisahkan hidupnya.

Linda melanjutkan, ''Kalau saya, waktu ibu hamil usaha bangkrut. Jadi, dari segi ekonomi tertekan karena bangkrut, ditambah menurut kepercayaan itu harus diasuh orang lain," paparnya.

Secara adat, di kota tempat kelahirannya, Bagansiapiapi, Riau, adopsi anak dari etnis Tionghoa merupakan hal lumrah. Keluarga Melayu-lah yang banyak menjadi rekan 'transaksi' adopsi tersebut. "Kebetulan, di tempat saya banyak keluarga Melayu yang nggak punya anak.''

Hidup di tengah keluarga Melayu, Linda pun dididik dan dibesarkan sesuai ajaran agama Islam. Ia mendapat pendidikan agama yang memadai, hingga mengenyam bangku kuliah.

Saat ini, Linda bahkan menjadi guru Bahasa Arab di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di Yogyakarta. Kedalaman ilmu agamanya patut diacungi jempol.
n
Reporter : afriza hanifa
Redaktur : Damanhuri Zuhri

Nur Aminudin
STMIK Pringsewu

Baca : Linda Lestari, Berkah Hidayah Si Anak Adopsi (2)
Baca : Linda Lestari, Berkah Hidayah Si Anak Adopsi (Bagian-3, habis)

 

Alhamdulillah, Ada Masjid Mualaf di Prancis

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah masjid di Prancis dijuluki "Masjid Mualaf" karena banyaknya pemeluk non-Islam yang melantunkan syahadat di masjid tersebut.

Setiap tahun, masjid tersebut dapat mengislamkan sekitar 150 mualaf Perancis. Angka yang sangat besar mengingat Prancis merupakan negara sekuler dan tempat menjamurnya islamofobia.

Masjid Sahaba, demikian nama masjid yang berlokasi di Kota Creteil Perancis tersebut. Namun masjid di pinggiran kota kelas menengah itu lebih sering dikenal dengan "Masjid Muallaf". Bangunan masjid tersebut cukup indah dan besar. Bercat putih, masjid dilengkapi menara dan berhiaskan mozaik rumit nan cantik.

Sejak dibangun tahun 2008, masjid selalu menjadi rumah nyaman bagi segala aktivitas para mualaf negeri pasta tersebut. Saat hari Jumat tiba, jumlah mereka membludak membanjiri masjid. Para muallaf muda mengenakan kopyah dan jubah memenuhi ruang masjid menunaikan shalat Jumat.

Masjid "Muallaf" tersebut menjadi tempat perlindungan bagi para mualaf. Saat memeluk Islam, tentu bukan hal mudah bagi mereka untuk berhubungan sosial seperti semula. Islam merupakan minoritas belum lagi menjamurnya pemahaman Islam yang salah akibat isu terorisme.

Para mualaf akan terasing, terkucil bahkan mungkin terasingk. Disitulah fungsi masjid Sahaba ini. Seperti namanya, Sahaba, yang bermakna sahabat. Masjid tersebut layaknya sahabat bagi para muallaf.

Gencarnya perlawaan Islam pun sedikit terobati dengan "rumah" nyaman tersebut. Muallaf berkumpul, bersilaturahim, menjalankan aktivitas disana. Banyaknya warga negara Eiffel yang memeluk agama Islam pun kemudian dianggap layaknya fenomena sosial.

"Konversi ke Islam telah menjadi fenomena sosial disini," ujar salah seorang pemuda Prancis yang memeluk Islam saat usia 19 tahun, Charlie-Loup dikutip dari New York Times.

Pengurus Isu beragama di Kementerian Dalam Negeri Perancis, Bernard Godard mengatakan, meningkatnya jumlah mualaf di Prancis terjadi secara umum dan mengesankan. Jumlah Mualaf Prancis pun justru terus bertambah pasca insiden bom 9/11 di Amerika.

"Fenomena konversi terjadi secara signifikan dan mengesankan terutama sejak tahun 2000," ujarnya.

Saat ini, jumlah mualaf Prancis mencapai 100 ribu jiwa dari total muslimin 6 juta. Bahkan menurut asosiasi Muslim setempat, jumlah mualaf mencapai 200 ribu orang.

Peningkatan mualaf pun mencapai dua kali lipat tiap tahunnya dalam 25 tahun terakhir. Adapun jumlah total penduduk Prancis sekitar 65 juta jiwa.
Reporter : Afriza Hanifa
Redaktur : Heri Ruslan

Nur Aminudin
STMIK Pringsewu

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. أهلاً وسهلاً - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger