Latest Post
Showing posts with label Khazanah. Show all posts
Showing posts with label Khazanah. Show all posts

Kopi, Warisan Islam pada Dunia

REPUBLIKA.CO.ID,Lebih dari 1,6 miliar cangkir kopi diminum setiap hari di seluruh dunia. Jumlah itu cukup untuk memenuhi sekitar 3.000 kolam renang ukuran Olimpiade setiap hari. Kopi telah menjelma menjadi industri global dan menjadi produk komoditas kedua terbesar di dunia. Rekor tersebut hanya dapat ditandingi oleh minyak bumi.

Tanaman kopi berasal dari hutan dataran tinggi Ethiopia. Tanaman pertama ditemukan tumbuh liar di daerah Kaffa, asal mula nama kopi berasal. Kata "coffee" resmi menjadi bahasa Inggris pada 1598 yang berasal dari bahasa Belanda, "koffie". Sedangkan, "koffie" dipinjam dari Turki "kahve" yang berasal dari bahasa Arab "qahwa".

Sebuah legenda populer bercerita tentang seorang gembala kambing bernama Kaldi pada abad ke-9. Suatu hari dia melihat kambing-kambingnya berperilaku aneh. Kambingnya menjadi lebih berenergi, saling berkejaran, dan mengembik dengan keras. Ia melihat mereka sedang makan buah merah dari semak-semak di dekatnya.

Merasa lelah dan sedikit penasaran, Kaldi memutuskan mencoba beberapa buah. Ia pun menjadi segar kembali. Kisah tertulis mengenai Kaldi baru muncul dalam manuskrip bertahun 1671. Alih-alih memakan buah kopi begitu saja, biji kopi direbus sehingga tercipta al-qahwa. Kaum sufi di Yaman meminum al- qahwa dengan alasan yang sama dengan kita saat ini, yakni agar tetap terjaga saat berzikir dan shalat malam.

Tidak diketahui dengan pasti kapan kopi ditemukan. Kopi mulai dibudidayakan di Yaman sekitar 575 Masehi. Sebuah legenda Islam dalam manuskrip Abdul al- Kadir menuturkan tentang bagaimana Syekh Omar menemukan kopi tumbuh liar saat ia bertapa di dekat pelabuhan Mocha di Yaman. Ia kemudian merebus beberapa buah dan merasakan minuman tersebut memiliki efek merangsang dan menyembuhkan.

Kemungkinan lain, kopi menyebar ke Yaman melalui budak-budak Sudan. Para budak memakan biji kopi untuk membantu tetap hidup karena mereka mendayung kapal menyeberangi Laut Merah, di antara Afrika dan Semenanjung Arab.

Bukti menunjukkan kopi tidak dinikmati sebagai minuman hingga sekitar abad ke-10. Dokumen tertua yang menulis tentang minuman kopi juga berasal dari abad ini. Dua filsuf Arab, Muhammad bin Zakariya al-Razi (850-922) dan Ibnu Sina dari Bukham (980-1037) menyebutkan minuman "bunchum" yang diyakini sebagai kopi.

Sebagaimana Alquran melarang Muslim meminum alkohol, efek menenangkan dari kopi menjadikannya sebagai minuman pengganti anggur bagi negara Muslim.

Kedai kopi pertama didirikan di Konstantinopel pada 1475. Kedai itu dikenal dengan Kaveh Kanes. Kedai kopi menjadi ajang berkumpul di mana Muslim bisa bersosialisasi dan mendiskusikan masalah-masalah agama.

Biji kopi pertama kali diekspor dari Ethiopia ke Yaman. Pedagang Yaman membawa kopi kembali ke tanah air me reka dan mulai menanamnya. Pelarangan kopi Hubungan antara Islam dan kopi tidak selalu berjalan mulus. Beberapa Muslim percaya kopi memabukkan dan harus dilarang. Pada 1511, Gubernur Makkah Khair Beg melihat beberapa jamaah minum kopi di sebuah Masjid saat akan beribadah malam. Dengan marah ia mengusir mereka dari Masjid dan memerintahkan semua kedai kopi di Makkah ditutup.

Namun, larangan itu dibatalkan pada 1524 atas perintah penguasa Ottoman Turki Sultan Selim I dan Imam Besar Mehmet Ebussuud el-Imadi. Keduanya mengeluarkan fatwa yang membolehkan mengonsumsi kopi. Larangan serupa juga terjadi di Kairo (Mesir) pada 1532. Kedai kopi dan gudang yang berisi biji kopi ditutup. Gereja Ortodoks Ethiopia juga pernah melarang kopi pada abad ke-18. Pada akhir abad ke-16, penggunaan kopi tersebar luas di seluruh Tmur Tengah, Afrika Utara, Persia, dan Turki. Kopi kemudian menyebar ke Balkan, Italia, seluruh Eropa, Indonesia, dan Amerika.

Kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia pada 1645 setelah kopi masuk ke Eropa melalui hubungan dagang dengan Afrika Utara dan Mesir. Kedai kopi Edward Lloyds di Inggris dibuka di London pada akhir abad ke-17.

Lloyds menjadi tempat bertemunya para pedagang dan pemilik kapal. Kedai kopi menjadi cikal bakal berdirinya pub. Tempat-tempat ini menjadi tempat bertukar pikiran mengenai politik dan turut andil pula atas terbentuknya gerakan liberal. Manfaat kopi yang dianggap begitu besar dianggap sama pentingnya dengan roti dan air. Bahkan, jika suami menolak kopi buatan istrinya dapat menjadi alasan perceraian dalam hukum Turki.
Reporter : Ani Nursalikah
Redaktur : M Irwan Ariefyanto


Nur Aminudin
STMIK Pringsewu

 

Islamic Book Fair, Ajang Pembuktian Karya Anak Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islamic Book Fair (IBF) 2013 tidak sekadar acara pameran buku biasa. Acara ini juga menjadi ajang pembuktian diri bagi penulis buku Islami di Indonesia.

"IBF menjadi ajang pembuktian terhadap karya anak bangsa yang makin berkualitas," ujar Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Afrizal Sinaro, yang juga penyelenggara IBF.

Afrizal mengatakan pihaknya juga akan memberikan IBF Award bagi lima karya terbaik penulis Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa.

Untuk kategori buku fiksi dewasa, penghargaan diberikan kepada Bambang Pujianto atas bukunya berjudul 'Balada Sepeda Butut'. Untuk kategori buku Islam fiksi dewasa terbaik dimenangkan S Gegge Mappangewa dengan karyanya yang berjudul 'Lontara Rindu'.

Penghargaan atas buku Islam terbaik kategori nonfiksi anak diberikan kepada Muhammad Yasir atas bukunya berjudul 'Jagalah Allah, Allah akan Menjagamu'. Sementara penghargaan buku Islam kategorti nonfiksi terbaik jatuh pada buku yang berjudul 'Ulama dan Kekuasaan' karya Jajat Burhanuddin.

Terakhir, penghargaan buku terjemahan terbaik dimenangkan buku The Historical Jesus yang diterjemahkan oleh Yuliani Liputoh. Pemenang mendapatkan trophy, piagam, dan sejumlah uang tunai dari penyelenggara IBF.
n
Reporter : Halimatus Sa'diyah
Redaktur : Damanhuri Zuhri

Nur Aminudin
STMIK Pringsewu

 

Pendidikan Kader Ulama Masih Minim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pemerintah dinilai lambat melakukan pengkaderan ulama. Padahal, Indonesia menjadi negara mayoritas muslim di dunia. Hal ini dinilai sangat berdampak pada pendidikan Islam di dalam negeri.

Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustaz Bactiar Natsir mengingatkan, pihak yang bertanggungjawab untuk mencetak ulama yang berkualitas adalah Kementerian Agama dan Majelis Mujahidin Indonesia.

Namun, dua lembaga itu seolah tutup mata pada sistem pendidikan ulama di Indonesia. Salah satu faktor yang dirasakan kurang dalam pengkaderan ulama adalah fasilitas infrastruktur dan penelitian.

Ini berbeda dengan di Malaysia. Pemerintah Malaysia benar-benar memberi ruang gerak yang luas bagi perkembangan keilmuan agama. Berbagai penelitian oleh ulama menjadi prioritas bagi pemerintah. Selain itu, ulama disejahterakan untuk menjalankan fungsinya yang sangat dihormati. "Kementerian Agama kurang memberi fasilitas infrastruktur dan penelitian, pesantren kehilangan fungsi pembelajaran agama yang berkualitas," kata Ustaz Bachtiar Natsir pada Republika, Kamis (28/2).

Lebih parahnya lagi, kata pimpinan Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) center ini, MUI justru kehilangan karisma di depan masyarakat. Peran ulama sangat dikerdilkan. ''Bahkan fatwa ulama hanya dianggap logika yang tidak mengikat,'' jelas Ustaz Bachtiar Nasir prihatin.

Menurut pakar Tadabbur Alquran ini, harus muncul sosok ulama yang mampu merapatkan barisan seluruh ulama. Agar peran strategis ulama kembali ada. Budaya Islam yang sangat mencintai ilmu kembali tumbuh untuk generasi penerus bangsa.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Nur Syam mengatakan, saat ini fokus pemerintah bukan pada pendidikan ulama. Pemerintah masih disibukkan menyebarluaskan pendidikan dasar dan menengah.

Juga untuk memerluas akses pendidikan bagi seluruh masyarakat. Akibatnya, dana yang ada di pemerintah sebagian besar untuk membiayai program itu. "Jangankan ulama, Perguruan Tinggi kita masih compang-camping," kata Nur Syam menjelaskan.

Pemerintah saat ini lebih memprioritaskan untuk mengembangkan akses seperti asrama, fasilitas santri maupun kelas-kelas baru. Pendidikan ulama memang sangat penting, kata dia, namun saat ini memang belum menjadi prioritas.

Pengkaderan ulama lebih diarahkan melalui pengembangan pesantren dan adanya Perguruan Tinggi. Selain itu, pemerintah juga membuat program Ma'had Ali untuk peningkatan kualitas ulama.
n
Reporter : agus raharjo
Redaktur : Damanhuri Zuhri

Nur Aminudin
STMIK Pringsewu

 

Hikmah dari Kisah Ibunda Nabi Musa

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah Yokhebed, ibunda Nabi Musa AS. Salah satunya yakni tawakal kepada Allah.

Ibunda Musa begitu tawakal menyerahkan keselamatan putranya kepada Allah. Ia memohon pertolongan Allah dan meminta perlindunganNya atas putra kecilnya. Allah banyak memerintahkan umat di dalam Alquran untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah.

"Dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung," Qur'an surah An-Nisa’ ayat 81. Serta dalam surah Ali- Imran ayat 159 disebutkan, "Kemudian apabila kamu telah membuat tekad, maka bertawallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertawakal kepada-Nya".

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. أهلاً وسهلاً - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger